Jumat, 09 Desember 2011

pita biru berterbangan

hari-H Ujian Sekolah.... wuaaah~ pita biru berterbangan!

oalaah... para ikhwan dan akhwat pada pake pita biru rupanya... ada apa nih? what's up?
buat temen-temen yang mungkin belum pada ngeh, ngapain sih mereka pakai pita biru? hmmm dalam rangka memperingati hari AIDS kali, ya? eh nggak laaah! pita AIDS kan warnanya merah, lha ini kan pita biru, lantas dalam rangka apa nih?

Konon, dengan menggunakan Pita Biru itu berarti mereka-mereka itu tengah melakukan Gerakan Nasional Memakai Pita Biru saat Ujian bukan sebagai simbol kesombongan, tapi sebagai simbol bahwa KAMI PEMUDA YANG MASIH PUNYA INTEGRITAS dan PRIHATIN atas KETIDAKJUJURAN yang sedang mewabah!

MANTEP-GAN! (Mandiri Terpercaya Gerakan Anti Nyontek!)

LATAR BELAKANG GERAKAN PITA BIRU :
Satu perhelatan akbar setiap tahun seolah jadi pusat gravitasi seluruh pelajar tingkat akhir di Indonesia: Ujian Nasional.
Kasak-kusuk menjelajah di setiap sudut sekolah.
Ruang guru rame.
Ruang kelas riuh.
Bimbel-bimbel kebanjiran pelajar yang haus ilmu.
Kantor pemerintah sibuk berwacana ini-itu.
Bahkan sampai pasar gelap pun seakan tersengat sedikit lampu.

Ada apakah gerangan? Oh, ternyata mereka bicara tentang tiga kata: LULUS / TIDAK LULUS.

Dan banyak di antara mereka yang menjatuhkan, bahkan saling mendorong sahabatnya sendiri ke jurang kehinaan. Lewat “usaha” mereka.


Miris rasanya pas liat ketidakjujuran seolah menjadi sebuah “kewajaran” di ranah pendidikan. Hal yang kita sering anggap “remeh” macam nyontek pas ulangan kalau dipikir=pikir bisa dampaknya besar banget buat masa depan.

Dari sini idealisme kami sebagai pemuda dan pelajar pun tergugah. Kami gak sanggup hanya diam dan menyaksikan bibit-bibit kehancuran bangsa ini di masa depan. Kami yakin ada yang bisa kami lakukan walau keciiil. Kami bukan sekelompok manusia suci atau “sok suci” yang gak pernah berbuat salah. Kami hanya pelajar yang jiwa mudanya berontak ingin dengan lembut berkata kebenaran. Kami hanya berusaha untuk menjaga integritas kami, dan menjaga nurani kami agar tak mati.


Sayang sampe sekarang kita belum dapet informasi sebenarnya siapa yang memiliki ide canggih ini?….walaupun demikian, siapaun itu, mudah-mudahan sang pioner gerakan ini mendapat magfirah dari Sang Maha Kuasa.

Semoga gerakan ini mampu mewabah sampai ke ubun-ubun semua siswa termasuk para guru berikut seluruh pengelola pendidikan, biar mereka semua berpikir ulang untuk tidak mencekoki anak-anak didiknya untuk berlaku curang!

Oya, ngomong-ngomong nih, hidup kita juga harus dilandasi 7 budi utama..
- Jujur
- Tanggung jawab
- Visioner
- Disiplin
- Kerjasama
- Adil
- Peduli

klo kita menanamkan ketujuh sifat itu dan diterapkan di sekolah, insya Allah ga akan ada lagi yang nyontek

So, mulai sekarang hayu atuh kita membangun bangsa kita supaya jadi bangsa yang jujur. Entar mah, kalo udah mentok pas ujian, tahan hasrat lirik kiri kanan depan belakang, mending dzikir atau berdoa sama Allah, supaya dikasih pencerahan. insya Allah, Allah bakalan ngasih yang terbaik buat kita.

ini doa kalo kita udah berusaha maksimal, udah ikhtiar semaksimal mungkin --> "Laa haula walaquwwata illa billah" Yang biasanya diberi tambahan “hil ‘aliyyil adhim”, yang berarti kurang lebih, “Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.”



MUSLIM SEJATI JUJUR SAAT UJIAN
MUSLIM SEJATI TAK CURANG SAAT UJIAN
MUSLIM SEJATI PERCAYA PADA KEMAMPUANNYA
MUSLIM SEJATI PERCAYA KEPADA ALLAH

dikutip dari berbagai sumber

Minggu, 02 Oktober 2011

Nyontek? Engga zaman kaleeee :P

Takut menghadapi ujian mungkin merupakan sesuatu yang wajar, akan tetapi jika ketakutan tersebut mengantarkan seseorang menjadi nyontek ketika ujian, itu baru tidak wajar.

Apa itu nyontek?

Nyontek adalah membawa catatan khusus untuk dapat disalin ketika ujian atau meniru pekerjaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan (curang). Tindakan nyontek hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya, yang dirinya lupa bahwa Allah selalu mengawasinya.

Apakah nyontek itu dosa?

Ketika seorang siswa berniat untuk menyontek, tentu ia akan mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh sang pengawas. Saat posisi dan waktu telah dirasa aman, mulailah si siswa melakukan aksinya yaitu “menyontek” dengan perasaan dag dig dug takut kalau-kalau aksinya ketahuan oleh sang pengawas. Sungguh apa yang telah dilakukan oleh si siswa tadi sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR.Muslim, no 4633)

Nyontek itu sepele?

Kalaulah kita terima pendapat ini yaitu bahwa nyontek merupakan perbuatan yang sepele dan hanya merupakan dosa kecil, maka alangkah indahnya perkataan Ibnul Mu’taz :

خلِّ الذُّنوبَ صَغِيرَها وكَبِيرَها فَهْوَ التُّقَى

واصْنَعْ كماشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ ما يَرَى

لا تَحْقِرَنَّ صغيرةً إنَّ الجِبَالَ مِنَ الحَصَى

“Tinggalkanlah dosa baik yang kecil ataupun yang besar, maka itulah takwa… Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri, tentu ia akan berhati-hati dari apa yang dilihatnya… Janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena gunungpun adalah dari kerikil…” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 212. Cet Darul Aqidah)

Namun, jika kita cermati lebih dalam tentang perkara nyontek ini, ternyata nyontek adalah sebuah perkara yang sangat mengerikan dan dianggap besar di dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kita” (HR. Muslim, no 146).

Selanjutnya marilah kita dengar cerita yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan :

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفَقَالَأَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Suatu ketika kami berada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?”-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu atau berkata dusta.” Saat itu beliau bersandar kemudian beliau duduk. Beliau masih saja mengulang-ulang sabdanya sampai-sampai kami berkata kalau seandainya beliau diam. (HR. Muslim, no 126)

Mungkin dapat kita katakan bahwa nyontek termasuk salah satu perbuatan memberikan persaksian palsu. Bukankah orang yang nyontek sebenarnya tidak bisa menjawab soal-soal ujian? Bukankah nilai hasil ujian yang bagus sebetulnya tidak bisa diraih seandainya ia tidak nyontek? Bukankah ini berarti nilai-nilai yang ada di raport/transkip nilainya adalah nilai-nilai yang palsu? Sungguh ia telah memberikan kesaksian palsu kepada manusia yang membaca raport/transkip nilainya!

Jangan hancurkan harga dirimu!

Kepengurusan '11-'12 (updated)

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur senantiasa terpanjatkan ke hadirat Allah swt., Tuhan yang maha menguasai langit dan bumi atas karuniaNya kepada kita semua. Shalawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada junjunan alam, nabi besar Muhammad saw., kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya hingga akhir zaman.



Kepengurusan DKM Al GHIFARI 2011-2012

Pembina :Bpk. Tana Sumpena S.Ag
 

Ketua:Muhammad Fathurrahman


Wakil Ketua I (Koor Ikhwan):
Rifqi Muhammad Al Ghifari


Wakil Ketua II (Koor Akhwat):
Oke Luthfiani Hamzah

Sekertaris I:
Rahmawati Nurfatihah


Sekertaris II:
Septi Rahmawati

Bendahara I: 
Irfan Maulana

Bendahara II
Asri Kholilah Huriah


Departemen DIKDAK (Pendidikan dan Dakwah) 
(Koor): Taufik Akbar

Departemen Tarbiyah & Kaderisasi:
(Koor) Cut Erina Nurhidayah
 

Hana Rihensa


Departemen Syiar:
Elsi Sri Mulyani

Departemen Keputrian:
Nurul Hidayah

Nobi Nublatul Hafilah


Departemen ORTALAK (Organisasi Tata Laksana)
(Koor): Firman Firdaus
 
Ragis Maulana


(Koor Akhwat) Selly Desiani

Fathia Fajrianti



Departemen KOMINFO (Komunikasi dan Informasi)

(Koor):
Rinaldy Drajat Maulana

Ilham Adi Utomo

Husni Munaya

Diar Hazkila

Isnan Abdurrahman

(Koor Akhwat) Fathiyah Zahra


Amalia Maulani

Fakhira Rifanti Maulana

Mega Cahya Pratiwi

LAUNCHING REMEMBER

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua. Amin.


Yakk, kali ini kami akan mempersembahkan:
LAUNCHING REMEMBER.(versi.akhwat)
yang Alhamdulillah telah dilaksanakan pada
hari Jumat, 16 September 2011.
pukul 13:00 s/d 14:30

SFX: jeng jeng jeng

ups, REMEMBER? apaan tuh?

Sekilas tentang 'REMEMBER'

'REMEMBER' adalah akronim dari 'Remaja Melingkar Mentoring Bersama'.
inilah bisa dibilang semacam 'revolusi' terbaru gitu ya (#eh?). FYI, REMEMBER ini nggak identik dengan mentoring akhwat doang lho... REMEMBER ini juga ada versi ikhwannya.
dan tentunya Insya Allah dilaksanakan setiap minggunya pada hari hari tertentu sesuai dengan kelompok yang udah ditentuin bareng murobbinya.

Oya, kalo denger kata 'mentoring' apa yang terlintas dalam pikiran? Duduk melingkar, lutut saling bertautan, tilawah, murobbi, dan lain lain, yang pasti temen2 udah pada kenal dan akrab suasana yang seperti ini yang kadang juga bikin kangeeen.
nah REMEMBER ini adalah versi kerennya dari mentoring, supaya nggak terkesan terlalu membosankan dan supaya bisa bikin semangat 45 lagi setelah penatnya sekolah eh eh konon katanya (?) REMEMBER adalah ciri khas DKM Al Ghifari nih. Ciyeee :))

 
yakk inilah beberapa 'souvenir' REMEMBER versi akhwat~ ayoo dateng terus ke acara REMEMBER, daaan koleksi semua serinya :)))

Senin, 22 Agustus 2011

Amalan di 10 Hari Terakhir Ramadhan


Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)
Dalam lafazh yang lain:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim no. 2009)
Ada dua penafsiran di kalangan ulama mengenai makna ‘mengencangkan sarung’:
a.    Ini adalah kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya.
b.    Ini adalah kiasan dari menjauhi berhubungan dengan wanita. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan yang dirajihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahumallah.
Makna ‘menghidupkan malam’ adalah mengisinya dengan ibadah dibandingkan tidur yang merupakan saudara dari kematian.
Makna ‘membangunkan keluarga’ adalah mendorong dan memerintah keluarga untuk mengisi malam-malam itu dengan ibadah.
Pada dasarnya, membangunkan keluarga untuk shalat malam adalah hal yang disunnahkan. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Allah merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya. Dan Allah merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1113, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1326)
Akan tetapi hal ini lebih disunnahkan lagi di 10 terakhir ramadhan. Karena shalat lail mengandung banyak keutamaan sehingga tidak pantas bagi seorang muslim atau keluarganya untuk luput darinya. 10 hari terakhir juga adalah penutup bulan ramadhan, sementara setiap amalan itu tergantung dengan penutupnya. Sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)
Kemudian, ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari ini tidak terbatas pada shalat lail saja, akan tetapi mencakup semua jenis ibadah seperti membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdoa, bersedekah, dan selainnya.
Di antara keistimewaan 10 hari ini adalah di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan atau yang dikenal dengan malam al-qadr. Pada malam ini Al-Qur`an diturunkan, pada malam ini ditetapkan takdir untuk setahun berikutnya, dan pada malam ini terdapat banyak pengampunan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 3-5)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 1268)
Karena semua keutamaan inilah, sebagian ulama berpendapat bahwa 10 terakhir ramadhan itu lebih utama dibandingkan 10 hari pertama dzulhijjah. Wallahu a’lam.


Jumat, 10 Juni 2011

Toleransi Dalam Islam

Salah satu ciri Islam yang penting adalah, Islam berusaha untuk menguatkan perdamaian untuk umat manusia dan untuk tercapainya tujuan itu Islam meletakkan dasar toleransi beragama. Salah satu ajaran pokok Islam yang mendapat tempat pertama adalah pengakuan kebenaran semua utusan Tuhan yang diutus-Nya untuk petunjuk bagi manusia yang untuknya mereka diutus sejak masa Adam a.s. Kita baca dalam Alquran Suci:
“Dan untuk semua umat ada seorang rasul”. (10:48).
“Dan untuk setiap kaum ada petunjuk” (13:8). “
“dan sesungguhnya telah kami bangkitkan dalam setiap umat seorang rasul dengan ajaran ‘sembahlah Allah dan jauhilah Thagut.” (16:37).
“Dan tiada satu umat kecuali telah berlalu di dalamnya seorang pemberi peringatan.” (35:25)

Sabtu, 14 Mei 2011

Islam, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan Deklarasi Kairo

Agama Islam, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan Muslim kontemporer berada dalam kegelisahan, ketegangan dan konflik antara satu sama lain. Istilah Islam memunculkan banyak gambaran - beberapa nyata, beberapa hanya imajinasi saja. Islam tampaknya digambarkan seolah buta secara rohani, dan menyebarkan kebencian dan kekerasan. Hal tersebut tumbuh subur dalam imajinasi orang-orang yang menjelekkan Islam. Sedangkan pemahaman yang ideal ada pada orang-orang yang tulus meyakini bahwa Islam semata-mata adalah kedamaian dan keihklasan.  Tetapi ketika Islam menjadi sebuah frase yang disalahterapkan dan disalahgunakan oleh beberapa tindakan dan ideologi, pada kenyataannya, bukanlah Islam.
Jadi dimana Islam yang sejati dapat dicari? Dimana Islam moderat bisa ditemukan?
Jihad

Ada pertanyaan tentang jihad versus militansi. Kami, umat Islam moderat, percaya bahwa di dalam Islam, perang hanya sah untuk membela diri. Muslim diijinkan untuk mengangkat senjata hanya jika mereka menjadi korban agresi atau penindasan. Tapi Quran menetapkan prasyarat di mana perdamaian harus diwujudkan dan amnesti dapat diberikan.  Pada sisi yang menampakkan sikap keras dalam pembelaan diri di dalam Al Quran, selalu ada desakan untuk memaafkan dan melupakan dan ajakan untuk perdamaian dan rekonsiliasi.

Jihad memiliki beberapa konotasi. Salah satunya cenderung setuju dengan pandangan Bernard Lewis, Profesor Emeritus di Princeton University, bahwa mayoritas dari para ahli hukum Islam paling sering menafsirkan jihad sebagai perjuangan bersenjata untuk pertahanan atau memajukan kekuasaan politik Islam atau hegemoni [9]. Anggapan di balik interpretasi berbahaya tersebut adalah bahwa panggilan untuk jihad militan akan t

Jumat, 06 Mei 2011

Falsafah Shalat Lima Waktu

Apa sebenarnya makna dari shalat lima waktu? Shalat lima waktu sebenarnya merupakan gambaran dari berbagai kondisi kita yang berbeda-beda sepanjang hari. Kita melewati lima tahapan kondisi pada saat sedang mengalami musibah dan fitrat alamiah kita menuntut bahwa kita harus melewatinya. Pertama, adalah ketika kita mendapat gambaran bahwa kita akan menghadapi musibah. Sebagai contoh, bayangkan ada surat panggilan bagi kita untuk menghadap ke suatu pengadilan. Kondisi pertama ini akan langsun

Minggu, 24 April 2011

Antara Jihad dan Berzikir

 Antara Jihad dan Berzikir – “…. Wahai Tuhan, penuhilah janji-Mu untuk memberikan kemenangan kepada kami. Jika umat yang kecil ini binasa dan kalah maka menanglah agama berhala, dan akan tak ada lagi orang yang menyembah-Mu di permukaan bumi ini. Amin Ya mujibas-salin”. (Do’a Rasul SAW).
Seperangkap do’a diucapkan Rasulullah SAW, ditengah-tengah berkecamuk perang antara kafir dibawah komando Abu Jahal dengan pasukan Muslim dipimpin oleh yang mulia Muhammad Rasulullah SAW, yang dikenal dalam sejarah Islam perang Badar. Dengan lantunan do’a Rasulullah SAW, kepada  Yang Maha Kuasa Allah disebut jihad dan zikir berikan kemenangan kepada kami jika umat yang kecil ini binasa dan kalah maka menanglah agama berhala.
Dicatat sejarah perang Badar merupakan suatu perjuangan dahsyat kaum Muslimin dengan kaum kafirin, antara yang hak dan yang batil. Peristiwa Badar punya arti penting dan strategis bagi perjuangan Islam. Kemenangan gemilang dengan izin Allah SWT. Yang Maha Pelindung dan Maha Penolong memberikan semangat untuk meraih kemenangan selanjutnya. Situasi dan perhitungannya waktu itu tidak dengan ilmu tetapi dengan Iman yakni menghadapi pihak musuh yang berjumlah 1000 orang dilengkapi persenjataan lengkap dan modern waktu itu yang langsung dikomandoi Abu Jahal sebagai panglima perangnya. Dihadapi pasukan Islam dengan jumlah 313 tentara persenjataan seadanya kurang sekali standar dibutuhkan. Sahabat Rasul SAW.kelihatan seakan-akan tertegun, rupanya dikala itu sedang turun Wahyu Allah SWT, yang berbunyi “ Hai Nabi kerahkan orang-orang mukmin itu bertempur ; jumlah orang mukmin 20 orang yang tabah akan dapat mengalahkan 200 orang musuh, dan 100 orang akan dapat mengalahkan 1000 orang kafir, karena orang-orang kafir itu tidak mempunyai dasar yang kuat “. (Q.S. Al-Anfal : 65).
Menurut mufasir, orang kafir itu perang tidak mempunyai dasar atau tidak mengerti adalah mereka tidak mengerti bahwa peperangan ini haruslah untuk membela keyakinan dan menaati perintah Allah. Mereka berperang (kafir) hanya semata-mata mempertahankan tradisi jahiliyah dan maksud duniawiyah lainnya. Sekembalinya dari peperangan dahsyat itu Rasulullah SAW berkata terhadap para sahabatyang ikut perang Badar bersejarah sepanjnag masa.
Kita baru saja pulang dari suatu perjuangan peperangan kecil dengan meraih kemenangan gemilangdiluar perhitungan ilmu manusia biasa tidak beriman (tapi ingat) untk selanjutnya kita akan menghadapi perjuangan yang lebih dahsyat yaitu menghadapi hawa nafsu angkara suatu perjuangan tanpa mengenal akhir. Hikmah dari kejadian perang Badar itu adalah jihad fisik di medan pe

Memelihara amanah

Memelihara amanah – Allah Swt berfirman, “ Sesungguhnya kami pikiulkan amanah pada langit dan bumi serta gunung – gunung. Semuanya enggan memikulnya dan rasa kuatir akan kesanggupanya dan di terima oleh manusia. Sayang manusia itu zalim dan jahil “. ( Qs Al Ahzab – 72 ).
Memahami sepotong ayat Al Quran diatas  yang menegaskan bahwa manusia sudah di berikan kepercayaan untuk menerima amanah dari Allah Swt, yang mana masing – masing amanah tersebut pastilah menurut ukuran, kesanggupan, kekuatan dan kedudukan manusia di tengah – tengah kehidupan di muka bumi ini.
Sebahagian ulama menjelaskan yang di maksud dengan amanah adalah : Thaat / Berbakti baik yang bersifat khusus atau umum, karakter atau peranggai yang di jalankan penuh kesadaran / Thabi’yah dan selalu berikhtiariyah. Jelasnya, amanah merupakan tugas – tugas keagamaan yang konotasinya dengan tugas – tugas kemanusiaan, dalam rangka memelihara akal pikiran, jiwa dan hati nurani terhadap apa – apa yang telah di amanahkan Allah Swt pada umat manusia. Yang mana harus di penuhi dan selalu di pelihara exsistensinya untuk selanjutnya di pertanggung jawabkan.
Namun para pembaca di akhir surat Al Ahzab – 72 Allah Swt mensinyalir dengan suatu sindiran yang pedas dan jelas. ‘ Innahu kana zhalumam jahulan ‘ Sesungguhnya manusia itu adalah zalim ( aniaya ) dan jahil ( amat bodoh ).
Zalim dalam artian meletakan sesuatu itu tidak pada tempatnya, hal ini dapat kita rasakan dalam situasi dan kondisi sekarang ini, misalnya masalah hukum dan keadilan. Yang mana dua kalimat itu sangat di butuhkan oleh kebanyakan manusia khususnya rakyat Indonesia   , bahkan para petinggi hukum dan keadilan itu serta setiap individu maupun kelompok sudah mengetahui dan memahami hakekat dari hukum dan keadilan itu, yang tak lepas dari sifat keuniversalanya ( umum ).
Terangnya hukum dan keadilan tidak memandang status, jabatan, suku, ras, jenis kelamin dsb. Tapi kenapa mereka semua masih tetap mencoba untuk menipu rakyat dengan memutar balikkan fakta dan keadaan yang sesungguhnya. Realita yang kita hadapi saat ini sangat jauh berbeda dengan apa – apa yang telah di amanahkan Allah Swt pada mereka. Ada harga diri yang terinjak dan nyaris kehilangan kepercayaan sebagai anak bangsa, ketika mendengar dan menyaksikan hukum dan keadilan s